Kamis, 15 Agustus 2019

Berdzikir Mengingat Allah Menguatkan Jiwa dan Raga


Khutbah Pertama:
إنَّ الحمدَ لله، نحمدُه ونستعينُه ونستغفِرُه، ونعوذُ بالله مِن شُرور أنفسِنا ومِن سيئات أعمالِنا، مَن يهدِه الله فلا مُضلَّ له، ومَن يُضلِل فلا هادِيَ له، وأشهدُ أن لا إله إلا الله وحدَه لا شريك له، وأشهدُ أنَّ محمدًا عبدُه ورسولُه.
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾ [آل عمران: 102].
﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا﴾ [النساء: 1].
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (70) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا﴾ [الأحزاب: 70، 71].
أما بعد:
Sesungguhnya seorang mukmin dalam diam dan geraknya, dalam aktivitas dan istirahatnya, dalam semua keadaannya senantiasa butuh kepada penciptanya. Karena Dialah yang menolongnya. Tempat bersandarnya. Dan tempat harapannya. Seorang hamba yang Rabbani, seorang hamba yang berketuhanan, ia akan tunduk dan luluh untuk Allah Jalla wa ‘Ala.Oleh karena itu, semakin kuat hubungan seorang hamba dengan Rabbnya, ia akan senantiasa menaati Allah dan ditunjuki ke jalan yang lurus. Allah akan mengilhamkannya untuk beramal. Semakin kuat tekadnya. Semakin bertambah kuat keimanannya. Dan semakin kuat ia berpegang pada agama.Rasulullah Hud ‘alaihissalam berkata membimbing kaumnya,
وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ
Dan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa”. [Quran Hud: 52].Firman-Nya, “Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu”, kaum Nabi Hud aslinya adalah orang yang terkuat. Karena itu mereka berkata,
مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً
“Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” [Quran Fussilat: 15].Dan Nabi Hud menjanjikan, apabila mereka beriman, Allah akan menambahkan kekuatan mereka.Dari ayat ini, kita bisa mengambil faidah bahwa istighfar disertai dengan berlepas diri dari dosa merupakan sebab bertumbuhnya rezeki, bertambah wibawa, dan kenikmatan. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Siapa yang berhias dengan sifat ini -yakni istighfar- Allah akan memudahkan rezekinya. Memudahkan urusannya. Menjaga dirinya dan kekuatannya.”Ketika Fatimah radhiallahu ‘anha meminta pembantu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau sampaikan kepada Fatimah dan suaminya, Ali bin Abu Thalib,
ألاَ أدُلُّكُمَا عَلَى خَيْرٍ مِمَّ سَأَلْتُمَا ؟ إذَا أَخَذْتَمَا مَضَاجَعَكُمَا أوْ أَوَيْتَمَا إلى فِرَاشِكُمَا فَسَبِّحَا ثَلاَثًا وَ ثَلاَثِيْنَ وَاحْمِدَا ثَلاَثًا وَ ثَلاَثِيْنَ وَ كَبِّرَا أرْبَعًا وَ ثَلاَثِيْنَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ
“Maukah kutunjukkan kepada kalian berdua sesuatu yang lebih baik daripada yang kalian berdua minta? Jika kalian hendak tidur, maka ucapkanlah tasbih tiga puluh tiga kali, tahmid tiga puluh tiga dan takbir tiga puluh empat kali. Itu lebih baik bagi kalian daripada seorang pelayan.” (HR. al-Bukhari).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi bimbingan kepada putrinya Fatimah radhiallahu ‘anha bahwa berdzikir itu menguatkan badan. Dengan dzikir yang beliau ajarkan, apabila diamalkan akan membuat seseorang kuat. Sehingga Fatimah mampu mengerjakan sesuatu lebih banyak dari apa yang bisa dilakukan pembantu.Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Kita bisa mengambil pelajaran dari sabda beliau, ‘Maukah kutunjukkan kepada kalian berdua sesuatu yang lebih baik daripada yang kalian berdua minta?’ Siapa yang melazimkan berdzikir kepada Allah, Dia akan memberi orang tersebut kekuatan yang lebih besar daripada yang dapat dikerjakan seorang pembantu untuknya. Atau memudahkan urusan untuknya. Allah jadikan pekerjaannya lebih mudah disbanding pengerjaan yang bisa dilakukan seorang pembantu.Ma’asyiral muslimin,Para wali Allah sangat yakin bahwa berdzikir merupakan sumber kekuatan mereka. Mereka sadar bahwa ruh mereka lebih butuh asupan dibanding jasad mereka. Bahkan materi-materi yang bermanfaat untuk mereka akan semakin bermanfaat, kalau kualitas ruh mereka semakin baik dan hati mereka semakin bergantung kepada Allah. Juga lisan mereka senantiasa berdzikir mengingat Allah.Dalam Shahih Muslim terdapat sebuah hadits dari Jabir bin Samurah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila sudah melakukan shalat subuh, beliau duduk di tempat shalatnya hingga matahari mulai naik.”Abul Abbas al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini menunjukkan dianjurkan saat usai shalat subuh berdzikir dan berdoa hingga terbit matahari. Karena waktu tersebut adalah waktu yang terlarang untuk mengerjakan shalat. Yaitu setelah shalat yang subuh yang disaksikan oleh malaikat. Sementara kesibukan aktivitas harian belum dimulai. Sehingga dzikir dan doa dijadikan untuk mengisi kekosongan hati, menghadirkan pemahaman, diharapkan doa akan terkabul, dan dzikir terdengar.”Dari al-Walid bin Muslim rahimahullah, ia berkata, “Aku melihat al-Auza’i (seorang ulama tabi’in) berdzikir kepada Allah sampai matahari terbit. Dan dikabarkan kepada kami bahwa para salaf (sahabat) demikianlah tuntunan mereka. Apabila matahari telah terbit mereka berdiri mereka menyibukkan dengan dzikir lainnya yakni mempelajari agama.”Ibnul Qayyim rahimahullah meriwayatkan dari gurunya Ibnu Taimiyah rahimahullah, “Suatu kali aku menemui Ibnu Taimiyah saat shalat subuh. Kemudian ia duduk dan berdzikir mengingat Allah Ta’ala hingga hampir mendekati tengah hari. Kemudian ia menoleh kepadaku dan berkata, ‘Inilah asupan giziku. Seandainya aku tidak memberi asupan pada diriku dengan hal ini, akan hilanglah kekuatanku.”Kita bisa lihat, siapa yang menyiapkan dirinya memulai hari dengan mengingat Allah, menghadapkan dirinya kepada Allah, merendahkan diri penuh dengan ketundukan, berharap kepada-Nya, bagaimana kualitas hari yang akan ia lewati? Bagaimana keadaan semangatnya? Sementara kita tahu bahwa dzikir itu dapat menguatkan jiwa dan raga.Bagaimana menurut Anda, apabilah seseorang menggabungkan antara dzikir ucapan dengan gerakan badan? Seperti melakukan shalat malam. Ia telah menggabungkan dua dzikir. Bahkan menggabungkan banyak bentuk dzikir: Alquran, doa, mengagungkan Allah, dll. Semua ini tidak diragukan lagi menambah kekuatan fisik dan jiwa seseorang.Di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bersemangat mengerjakan shalat malam. Dari Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terbiasa shalat malam hingga kakinya pecah-pecah. Kemudian Aisyah mengatakan, “Mengapa Anda melakukan ini, padahal Allah telah mengampuni kesalahan Anda yang lalu dan yang akan datang.” Rasulullah menjawab,
أفلا أُحِبُّ أن أكون عبدًا شَكُورًا؟
“Bukankan sepantasanya aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?” (Muttafaqun ‘alaih).Sesungguhnya ibadah ini memberi asupan gizi untuk ruh. Menguatkan jiwa. Menata keinginan. Karena itu, tidak heran bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadapi berbagai macam kesulitan dan rintangan di jalan Allah, menghadapi ujian dan gangguan, akan tetapi beliau mampu menghadapi tipu daya musuh tersebut. Allah Ta’ala berfirman,
﴿وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ (97) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ
“Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat).” [Quran Al-Hijr: 97-98].Maksudnya, bertawakallah kepada Allah yang menciptakan Anda. Sesungguhnya Dia yang mencukupkanmu dan menolongmu. Sibukkanlah diri dengan berdzikir kepada Allah, memuji-Nya, bertasbih kepada-Nya, beribadah kepada-Nya, dan tunaikan shalat. Oleh karena itu, selanjutnya Allah firmankan,
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ
“Bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat).” [Quran Al-Hijr: 98].Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila gundah dalam menghadapi sesuatu, beliau mengerjakan shalat. Karena shalat adalah sebesar-besar faktor pendorong yang membuat seseorang teguh dalam Islam. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain).” [Quran Al-Ankabut: 45].Di antara bentuk hiburan Allah kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Dia memberi permisalan kekuatan beribadah kepada beliau dengan seorang hamba yang shalih dan Nabi yang terpilih yakni Daud ‘alaihissalam. Allah Azza wa Jalla berfirman,
﴿اصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَاذْكُرْ عَبْدَنَا دَاوُودَ ذَا الْأَيْدِ إِنَّهُ أَوَّابٌ
“Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan; dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan).” [Quran Shad: 17].As-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Di antara faidah dan hikmah dari kisah Daud adalah Allah Ta’ala memuji dan mencitai kekuatan dalam ketaatan: kuatnya hati dan badan yang berpengaruh pada ketaatan dan memperbanyak melakukannya. Tidak terdapat kelemahan. Dan seorang hamba seharusnya melakukan usaha untuk mewujudkan ini. Tidak bermalas-malasan. Tidak menghilangkan kekuatan. Dan melemahkan jiwanya.”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mencukupkan hanya satu pintu saja dalam menjalin hubungan kepada Allah untuk menguatkan diri. Tapi banyak varian yang lain dalam permasalahan ini. Dalam Shahih al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa wishal (bersambung dari siang ke malam),
فقال له رجُلٌ مِن المُسلمين: إنَّك تُواصِلُ يا رسولَ الله، قال: «وأيُّكُم مِثلِي؟ إنِّي أبِيتُ يُطعِمُني ربِّي ويَسقِينِ».
“Seseorang bertanya kepada beliau, ‘Sesungguhnya Anda melakukan puasa wishal, Rasulullah’. Beliau menjawab, ‘Siapa di antara kalian yang sepertiku? Sesungguhnya aku tidur di malam hari sementara Rabku memberiku makan dan minum.”Yakni Allah menyibukkan diriku merenungi keagungan-Nya, menyejukkan hatiku dengan mencintai-Nya, menghabiskan waktu dengan bermunajat kepada-Nya, dan menerima dari-Nya makanan dan minuman. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Terkadang asupan ini lebih hebat lagi dari asupan yang diterima jasad.”Ibadallah,Dzikir merupakan pokok ibadah dan paling mudah dilakukan oleh seorang mukmin. Tidak ada halangan bagi seseorang untuk memperbanyak dzikir. Hal itu sebagai bentuk pengamalan firman Allah,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” [Quran Al-Ahzab: 41].Ibnu Athiyah rahimahullah mengatakan, “Allah menjadikan dzikir itu tanpa batasan untuk mempermudah hamba-hamba-Nya. Dan agar membesarkan pahala dalam ibadah ini.”Ayyuhal muslimun,Sesungguhnya hati memiliki gizi yang harus dipenuhi agar ia tetap kuat. Dan gizi untuk hari adalah iman kepada Allah Ta’ala dan beramal shaleh. Yang membuat seorang hamba tetap mampu dan memiliki kekuatan di hatinya untuk tetap teguh dalam kebenaran. Sesungguhnya kehidupan yang hakiki adalah kehidupan hati. Hidupnya hati tidak akan sempurna kecuali dengan melakukan amalan yang Allah ridhai. Terdapat sebuah hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَثَلُ الَّذِيْ يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِيْ لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
“Perumpamaan orang yang ingat akan Rabbnya dengan orang yang tidak ingat Rabbnya laksana orang yang hidup dengan orang yang mati.” (HR. al-Bukhari).Hati ini saat dia terhubung dengan Allah dan kembali kepada-Nya, ia akan mendapatkan asupan gizi dan kenikmatan yang hal itu tidak bisa dicerna akal pikiran. Ketika seorang hamba lalai dari Rabbnya dan tidak menaati-Nya, hatinya akan mati. Karena itu, seseorang tidak merasakan ketenangan di hatinya, pikirannya tidak nyaman, dan dadanya terasa sempit kalau tidak menaati Allah. Dzikir mengingat Allah merupakan ibadah yang dapat membuat hati menjadi tenang, melahirkan kesabaran dan keteguhan, menghilangkan galau, dan menghapuskan perasaan sempit yang berasal dari sibuk memikirkan dunia.
أقولُ هذا القَول، وأستغفِرُ الله لي ولكم، فاستغفِرُوه إنَّه هو الغفورُ الرحيم.



Khutbah Kedua:
الحمدُ لله مَن أقبلَ عليه تلقَّاه، ومَن اعتصَمَ به نجَّاه، ومَن لاذَ بحِماه وقاه، ومَن فوَّضَ أمرَه إليه هداه، أحمدُه – سبحانه -، وأشهدُ أن لا إله إلا الله وفَّق مَن شاءَ مِن عبادِه لهُداه، وأشهدُ أنَّ مُحمدًا عبدُه ورسولُه ومُصطفاه، أعظمُ النَّاسِ صِلةً بمولاه، صلَّى الله عليه وعلى آلِه وأصحابِه ومَن والاه.
أما بعد .. فيا عباد الله:
Buah terbesar dari keimanan adalah hubungan dengan Allah, merasa membutuhkan-Nya, melaksanakan perintah-Nya, tunduk kepada-Nya, merealisasikan ubudiyah kepada-Nya dalam keadaan senang maupun susah dalam keadaan lapang maupun sempit.Kuatnya hubungan dengan Allah menjadikan seorang mukmin tunduk kepada Allah, mengamalkan perintah-Nya, dan istiqomah di atas syariat-Nya. Siapa yang demikian, maka balasannya adalah kehidupan yang baik. Dan itulah yang Allah janjikan kepada orang-orang yang beriman. Allah Ta’ala berfirman,
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” [Quran An-Nahl: 97].Sesungguhnya terkaitnya seorang hamba dengan Allah dan memiliki hubungan yang baik dengan Rabbnya akan menuntun pelakunya untuk beramal. Membuat ia menghisab dirinya atas perkara yang kecil maupun besar. Ia merasakan bimbingan Penciptanya sebelum ia menilai orang lain.Orang yang menjalin hubungan dengan Allah akan memudahkannya menerima dan melakukan perbuatan baik, berusaha di jalan kebaikan, bersemangat agar tidak luput dari sesuatu yang bermanfaat. Ia bersedih dan menyesal dari sesuatu yang dapat menambah keimanannya. Menyia-nyiakan waktu semangat dan kuatnya.Saudara-saudara sekalian,Siapa yang menjaga anggota badannya dari apa yang Allah haramkan, Allah akan menambah kekuatan demi kekuatannya. Ia akan nikmat dalam beribadah. Inilah cita-cita seorang mukmin. Di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:
وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا
“Berilah kenikmatan dan manfaat kepada kami dengan pendengaran, penglihatan, dan kekuatan kami selama Engkau menghidupkan kami. Jadikanlah semua itu sebagai pewaris dari kami.”Nikmat dengan pendengaran dan penglihatan yang sehat hingga wafat. Sehingga makna doa tersebut adalah jadikan kami orang-orang yang mendapat kenikmatan dan kemanfaatan dengan pendengaran dan penglihatan serta seluruh kekuatan anggota tubuh kita yang tampak maupun yang tidak. Seluruh anggota badan kita, kita gunakan untuk taata kepada Allah sepanjang hidup kita. Inilah makna doa tersebut.Siapa yang menjaga batasan Allah saat masih muda dan kuat, Allah akan menjaganya saat tua dan hilang kekuatannya. Allah akan menjaga pendengaran dan penglihatannya. Seluruh anggota badannya. Dan kekuatan badan serta akalnya.
ألا وصلُّوا وسلِّمُوا – رحمكم الله – على النبيِّ المُصطفى، والرسولِ المُجتبَى، كما أمرَكم بذلك ربُّكم – جلَّ وعلا -، فقال تعالى قولًا كريمًا: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾ [الأحزاب: 56].
اللهم صلِّ على مُحمدٍ وعلى أزواجِه وذريَّته، كما صلَّيتَ على آل إبراهيم، وبارِك على مُحمدٍ وعلى أزواجِه وذريَّته، كما بارَكتَ على آل إبراهيم، إنَّك حميدٌ مجيد.
اللهم أعِزَّ الإسلام والمسلمين، وأذِلَّ الكفرَ والكافِرين، وانصُر عبادَك المُوحِّدين، ودمِّر أعداءَك أعداءَ الدين، واجعَل هذا البلَدَ آمنًا مُطمئنًّا وسائِرَ بلادِ المُسلمين.
اللهم آمِنَّا في الأوطانِ والدُّور، وأصلِح الأئمةَ ووُلاةَ الأمور، واجعَل ولايتَنا فيمَن خافَك واتَّقاك، واتَّبَع رِضاك يا رب العالمين.
اللهم وفِّق وليَّ أمرِنا لِما تُحبُّه وترضَاه مِن الأقوال والأعمال يا حيُّ يا قيُّوم، وخُذ بناصيتِه للبرِّ والتقوَى.
اللهم كُن لإخوانِنا المُستضعَفين والمُجاهِدين في سبيلِك، والمُرابِطين على الثُّغور، وحُماة الحُدود، اللهم كُن لهم مُعينًا ونصيرًا، ومُؤيِّدًا وظَهيرًا.
ربَّنا اجعَلنا لك شكَّارين، لك ذكَّارين، إليك مُخبِتِين مُنِيبِين أوَّاهِين.
اللهم احفَظنا بالإسلام قائِمين، واحفَظنا بالإسلام قاعِدين، واحفَظنا بالإسلام راقِدين، ولا تُشمِت بنا عدوًّا ولا حاسِدًا.
اللهم اكفِنا شرَّ الأشرار، وكيدَ الفُجَّار، وأذَى المُؤذِين، اللهم إنَّا نجعلُك في نُحورِهم، ونعوذُ بك مِن شُرورهم.
اللهم اجعَلنا هُداةً مُهتَدين على صراطِك المُستقيم.
والحمدُ لله ربِّ العالمين.
Diterjemahkan dari khotbah Jumat Syaikh Faishal Jamil Ghazawi (Imam dan Khotib Masjid al-Haram)Penerjemah: tim KhotbahJumat.comJudul Asli: Dzikrullah Ta’alaTanggal: 11 Muharam 1440 H Sumber : https://khotbahjumat.com

Minggu, 04 Agustus 2019

Bilal bin Rabah, Muadzin Pertama yang Langkahnya Terdengar Hingga Ke Surga




Bilal bin Rabah adalah orang berkulit hitam dari Habsyah (Ethiopia) yang masuk Islam saat ia masih menjadi budak. Bilal pernah mengalami kejamnya perbudakan dan kemudian ia mendapatkan kebebasan serta kedudukan yang tinggi dengan datangnya Islam. Bilal yang memiliki postur kurus dan tinggi dengan rambut yang tebal bukanlah berasal dari kalangan bangsawan. Pada saat itu, Abu Bakar yang membeli Bilal saat masih berstatus budak dan membebaskannya.

Pasalnya, Bilal terus menerus disiksa oleh sang majikan saat ketahuan memeluk agama Islam. Sang majikan memaksa agar Bilal mau meninggalkan Islam dan menyembah Latta dan Uzza. Saat itu Abu Bakar menemukan Bilal bin Rabah di bawah terik sinar matahari ketika Bilal sedang mendapat hukuman dari majikannya yang bernama Umayyah. Leher Bilal diikat dan dijemur menghadap matahari di tengah padang pasir yang sangat panas. Bahkan dadanya pun ditindih dengan batu besar hingga nafasnya terasa sesak.

Abu Bakar pun membebaskan Bilal dengan membelinya dari Umayyah lalu mengobati luka-luka yang dialami Bilal di rumahnya. Saat Rasulullah SAW hijrah menuju Madinah, Bilal senantiasa menemani dan menjaga Rasullulah kemana pun juga. Bilal kemudian dipilih oleh Rasulullah SAW menjadi muadzin atau orang pertama yang mengumandangkan adzan. Dari Zaid bin Arqam, Rasulullah SAW bersabda, “Iya, orang itu adalah Bilal, pemuka para muadzin dan tidaklah mengikutinya kecuali para muadzin. Para muadzin adalah orang-orang yang panjang lehernya di hari kiamat.” Bilal dipilih menjadi muadzin pertama karena Bilal memiliki suara yang indah dan keras sehingga dapat menjangkau jarak yang jauh. Saat itu, Bilal pun menjadi muadzin pertama yang mengumandangkan adzan di kota Madinah.

Tak hanya menjadi muadzin pertama, Bilal pun mempunyai kedudukan yang istimewa di sisi Rasulullah SAW. Bahkan Bilal pun telah digaransi masuk surga oleh Rasulullah SAW. Lebih istimewa lagi, suara langkah kaki Bilal pun terdengar hingga ke surga. Saat itu, Rasulullah SAW mendengar suara sandal Bilal saat Rasulullah SAW berada di surga pada malam Isra Mi’raj.

Dikisahkan bahwa selepas salat subuh berjamaah, Rasulullah SAW memanggil Bilal dan bertanya, “Katakanlah kepadaku, apa amalanmu yang paling besar pahalanya yang kamu kerjakan dalam Islam? Karena sesungguhnya aku mendengar hentakkan sandalmu di surga.” Kemudian Bilal pun menjawab, “Setiap aku berwudhu, kapanpun itu, baik siang maupun malam, aku selalu melakukan salat dengan wudhu tersebut.”

Rupanya, Bilal bin Rabah merupakan orang yang selalu menjaga wudhu dalam setiap kegiatannya sehari-hari. Ketika wudhunya batal, Bilal pun akan kembali berwudhu lagi lalu melakukan salat dua rakaat setelah wudhu. Amalan tersebutlah yang membuat Bilal begitu istimewa hingga suara sandalnya pun terdengar hingga ke surga.

Sebagaimana dari Abu Hurairah RA, beliau RA mengatakan, “Rasulullah SAW bersabda kepada Bilal setelah menunaikan salat subuh, ‘Wahai Bilal, beritahukanlah kepadaku tentang perbuatan-perbuatanmu yang paling engkau harapkan manfaatnya dalam Islam. Karena sesungguhnya tadi malam aku mendengar suara terompahmu di depanku di surga.’ Bilal RA menjawab, ‘Tidak ada satu perbuatan pun yang pernah aku lakukan, yang lebih kuharapkan manfaatnya dalam Islam dibandingkan dengan (harapanku terhadap) perbuatanku yang senantiasa melakukan salat (sunah) yang mampu aku lakukan setiap selesai bersuci (wudhu) dengan sempurna di waktu siang ataupun malam.” (HR. Muslim)

Demikianlah kisah hidup Bilal bin Rabah, orang pertama yang mengumandangkan adzan dan bahkan suara sandalnya pun terdengar hingga ke surga. Pasalnya, Bilal selalu menjaga keimanannya dan kesuciannya dengan selalu menjaga wudhunya. Bilal kemudian wafat pada tahun 20 Hijriah di Damaskus saat ia berusia sekitar 60 tahun.


Minggu, 02 Juni 2019

Romadhon


Rasululullah shallallahu’alaihiwasallam bercerita,
سَأَلَ مُوسَى رَبَّهُ: مَا أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً؟ قَالَ: هُوَ رَجُلٌ يَجِىءُ بَعْدَ مَا أُدْخِلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ فَيُقَالُ لَهُ: ادْخُلِ الْجَنَّةَ. فَيَقُولُ: أَىْ رَبِّ كَيْفَ وَقَدْ نَزَلَ النَّاسُ مَنَازِلَهُمْ وَأَخَذُوا أَخَذَاتِهِمْ؟ فَيُقَالُ لَهُ: أَتَرْضَى أَنْ يَكُونَ لَكَ مِثْلُ مُلْكِ مَلِكٍ مِنْ مُلُوكِ الدُّنْيَا؟ فَيَقُولُ: رَضِيتُ رَبِّ. فَيَقُولُ: لَكَ ذَلِكَ وَمِثْلُهُ وَمِثْلُهُ وَمِثْلُهُ وَمِثْلُهُ. فَقَالَ فِى الْخَامِسَةِ: رَضِيتُ رَبِّ. فَيَقُولُ: هَذَا لَكَ وَعَشَرَةُ أَمْثَالِهِ وَلَكَ مَا اشْتَهَتْ نَفْسُكَ وَلَذَّتْ عَيْنُكَ. فَيَقُولُ: رَضِيتُ رَبِّ…”.
“(Suatu saat) Nabi Musa bertanya kepada Allah, ”Bagaimanakah keadaan penghuni surga yang paling rendah derajatnya?”. Allah menjawab, “Seorang yang datang (ke surga) setelah seluruh penghuni surga dimasukkan ke dalamnya, lantas dikatakan padanya, “Masuklah ke surga!”. “Bagaimana mungkin aku masuk ke dalamnya wahai Rabbi, padahal seluruh penghuni surga telah menempati tempatnya masing-masing dan mendapatkan bagian mereka” jawabnya. Allah berfirman, “Relakah engkau jika diberi kekayaan seperti raja-raja di dunia?”. “Saya rela wahai Rabbi” jawabnya. Allah kembali berfirman, “Engkau akan Kukaruniai kekayaan seperti itu, ditambah seperti itu lagi, ditambah seperti itu, ditambah seperti itu, ditambah seperti itu dan ditambah seperti itu lagi”. Kelima kalinya orang itu menyahut, “Aku rela dengan itu wahai Rabbi”. Allah kembali berfirman, “Itulah bagianmu ditambah sepuluh kali lipat darinya, plus semua yang engkau mau serta apa yang indah di pandangan matamu”. Orang tadi berkata, “Aku rela wahai Rabbi”…”. HR. Muslim (I/176 no 312) dari al-Mughîrah bin Syu’bah radhiyallahu’anhu.
Seorang muslim yang mendengar hadits di atas atau yang semisal, ia akan semakin merindukan untuk meraih kemenangan masuk ke surga Allah kelak. Bagaimana tidak? Sedangkan orang yang paling rendah derajatnya di surga saja sedemikian mewah kenikmatan yang akan didapatkan di surga, lantas bagaimana dengan derajat yang di atasnya? Bagaimana pula dengan orang yang menempati derajat tertinggi di surga? Pendek kata mereka akan mendapatkan kenikmatan yang disebutkan oleh Allah dalam al-Qur’an,
فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ”.
Artinya: “Seseorang tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka; yaitu (bermacam-macam kenikmatan) yang menyedapkan pandangan mata, sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan”. QS. As-Sajdah: 17.

Namun anehnya ternyata masih banyak di antara kaum muslimin yang tidak ingin masuk surga, sebagaimana telah disinggung oleh Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dalam haditsnya,
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى” قَالُوا: “يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى؟” قَالَ: “مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى”.

“Seluruh umatku akan masuk surga kecuali yang enggan”. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah yang enggan (untuk masuk surga)?”. Beliau menjawab, “Barang siapa yang taat padaku maka ia akan masuk surga, dan barang siapa yang tidak mentaatiku berarti ia telah enggan (untuk masuk surga)”.
 HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.
Jadi tidak setiap yang mendambakan surga, kelak akan mendapatkannya; karena surga memiliki kunci untuk memasukinya; barang siapa yang berhasil meraihnya di dunia; niscaya ia akan merasakan manisnya kenikmatan surga kelak di akhirat, sebaliknya barang siapa yang gagal merengkuhnya; maka ia akan tenggelam dalam kesengsaraan siksaan neraka.
Makna hadits ini bahwasanya umat beliau yang mentaati dan mengikuti petunjuk beliau akan masuk surga. Barangsiapa yang tidak mengikutinya berarti dia enggan masuk surga. Barangsiapa yang mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mentauhidkan Allah serta istiqomah dalam syariat Allah serta menunaikan shalat, menunanaikan zakat, melaksanakan puasa Ramadhan, berbakti kepada kedua orangtua, menjaga dari perkara yang Allah haramkan seperti perbuatan zina, meminum minuman yang memabukkan, dan perkara haram lainnya, maka akan masuk ke dalam surga. Karena orang tersebut telah mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun orang yang enggan dan tidak mau mentaati syariat maka maknanya orang tersebut enggan untuk masuk surga. Orang tersebut telah mencegah dirinya untuk masuk ke dalam surga dengan amal keburukan yang dia lakukan. Inilah yang dimaksud makna hadits di atas.

Wajib bagi setiap muslim untuk mentaati syariat Allah, serta mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam setiap syariat yang beliau bawa. Beliau adalah Rasulullah yang hak, penutup para Nabi ‘alaihis shalatu wa salaam. Allah Ta’ala telah berfirman tentang Nabi-Nya,
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah menyayangimu dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali ‘Imran :31)
Mencintai Rasulullah adalah di antara sebab timbulnya rasa cinta Allah kepada hamba-Nya dan juga sebab datangnya ampunan, serta sebab masuknya hamba ke dalam surga. Adapun bermaksiat kepada beliau dan menyelisihi beliau merupakan sebab kemurkaan Allah dan sebab terjerumusnya seseorang ke dalam neraka. Barangsiapa melakukan yang demikian itu, dia enggan untuk masuk ke dalam surga. Barangsiapa yang menolak untuk mentaati rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dia telah enggan untuk masuk surga.
Wajib bagi setiap muslim, bahkan bagi seluruh penduduk bumi, baik laki-laki maupun perempuan, baik jin maupun manusia, seluruhnya wajib mentaati syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengikuti beliau, melaksanakan perintah beliau, dan menjahui seluruh apa yang beliau larang. Ini merupakan sebab masuknya seseorang ke dalam surga. Allah Ta’ala berfirman,
مَّنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللّهَ
 “Barangsiapa yang mentaati Rasul sesungguhnya ia telah mentaati Allah “ (QS. An Nisa: 80)
قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِن تَوَلَّوا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُم مَّا حُمِّلْتُمْ وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ
 “Katakanlah: “Taat kepada Allah dan taatlah kepada Rasul. dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan sejelas-jelasnya” (QS. An Nur: 54)

Berikut adalah keistimewaan-keistimewaan yang disebutkan dalam berbagai ayat dan hadits. Semoga dengan mengetahui hal ini, kita akan semakin semangat di bulan Ramadhan. Hanya Allah yang beri taufik.
1. Ramadhan adalah Bulan Diturunkannya Al Qur’an
Bulan ramadhan adalah bulan yang mulia. Bulan ini dipilih  sebagai bulan untuk berpuasa dan pada bulan ini pula Al Qur’an diturunkan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
 “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al Baqarah: 185)
Ibnu Katsir rahimahullah tatkala menafsirkan ayat yang mulia ini mengatakan, ”(Dalam ayat ini) Allah Ta’ala memuji bulan puasa –yaitu bulan Ramadhan- dari bulan-bulan lainnya. Allah memuji demikian karena bulan ini telah Allah pilih sebagai bulan diturunkannya Al Qur’an dari bulan-bulan lainnya. Sebagaimana pula pada bulan Ramadhan ini Allah telah menurunkan kitab ilahiyah lainnya pada para Nabi ’alaihimus salam.”
2. Setan-setan Dibelenggu, Pintu-pintu Neraka Ditutup dan Pintu-pintu Surga Dibuka Ketika Ramadhan Tiba
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
”Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu.”
Al Qodhi ‘Iyadh mengatakan, “Hadits di atas dapat bermakna, terbukanya pintu surga dan tertutupnya pintu Jahannam dan terbelenggunya setan-setan sebagai tanda masuknya bulan Ramadhan dan mulianya bulan tersebut.” Lanjut Al Qodhi ‘Iyadh, “Juga dapat bermakna terbukanya pintu surga karena Allah memudahkan berbagai ketaatan pada hamba-Nya di bulan Ramadhan seperti puasa dan shalat malam. Hal ini berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Di bulan Ramadhan, orang akan lebih sibuk melakukan kebaikan daripada melakukan hal maksiat. Inilah sebab mereka dapat memasuki surga dan pintunya. Sedangkan tertutupnya pintu neraka dan terbelenggunya setan, inilah yang mengakibatkan seseorang mudah menjauhi maksiat ketika itu.”
3. Terdapat Malam yang Penuh Kemuliaan dan Keberkahan
Pada bulan ramadhan terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan yaitu lailatul qadar (malam kemuliaan). Pada malam inilah –yaitu 10 hari terakhir di bulan Ramadhan- saat diturunkannya Al Qur’anul Karim.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3
”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada lailatul qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadr: 1-3).
Dan Allah Ta’ala juga berfirman,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ
”Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad Dukhan: 3). Yang dimaksud malam yang diberkahi di sini adalah malam lailatul qadr. Inilah pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Jarir Ath Thobari rahimahullah[4]. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama di antaranya Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.
4. Bulan Ramadhan adalah Salah Satu Waktu Dikabulkannya Do’a
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ ,وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ
”Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan,dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a maka pasti dikabulkan.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
 “Tiga orang yang do’anya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizholimi”. An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Hadits ini menunjukkan bahwa disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk berdo’a dari awal ia berpuasa hingga akhirnya karena ia dinamakan orang yang berpuasa ketika itu.” An Nawawi rahimahullah mengatakan pula, “Disunnahkan bagi orang yang berpuasa ketika ia dalam keadaan berpuasa untuk berdo’a demi keperluan akhirat dan dunianya, juga pada perkara yang ia sukai serta jangan lupa pula untuk mendoakan kaum muslimin lainnya.”



Jumat, 07 Juli 2017

VISI MISI SMK Pancasila 1 Kutoarjo



VISI DAN MISI

Visi
Terciptanya sumber daya manusia yang utuh sehingga menjadi manusia pembangunan yang berjiwa pancasila, berwawasan global dan ramah terhadap lingkungan.
Misi
1. Menyiapkan sumber daya manusia berkepribadian unggul, memiliki apresiasi tinggi di bidang IPTEK, IMTAQ, mengutamakan kejujuran dan Kedisiplinan.
2. Menghasilkan Sumber daya manusia yang berjiwa entrepreneurship yang ulet, profesional dan setia pada budaya nasional.
3. Menghasilkan tamatan untuk tenaga kerja tingkat menengah yang berakhlak mulia, cerdas, terampil dan beretos kerja tinggi.
4. Menghasilkan sumber daya manusia berjiwa membangun yang kreatif, produktif dan inovatif.
5. Mewujudkan SMK PANCASILA 1 KUTOARJO sebagai pusat belajar bagi masyarakat, yang mandiri menuju mutu berstandar Nasional dan Internasional.

DOA Halal Bi Halal SMK Pancasila 1 Kutoarjo 2017



DO’A HALAL BI HALAL

Assalamu’alaikum wr wb
Bapak Ibu Hadirin yang berbahagia, marilah bersama-sama kita menundukkan kepala sejenak, menengadahkan kedua telapak tangan guna untuk memanjatkan doa, agar acara pada pagi hari ini penuh dengan limpahan Rahmat dan Barakah dari Allah SWT.
Untuk yang beragama Islam, izinkan saya untuk memandunya sesuai dengan tuntunan agama islam.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ ، الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ، حَمْدًا شَاكِرِيْن حَمْدًا النَّاعِمِيْن حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِىءُ مَزِيْدَهُ، يَارَبَّنَالَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ.   اَللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَتَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلاَ تَجْعَلِ اللَّهُمَّ فِيْنَا وَلاَ مَعَنَاوَلاَ مَنْ يَتْبَعُوْنَ شَقِيًّا وَلاَ مَطْرُوْدًا وَلاَ مَحْرُوْمًا، وَهَبْ لَنَا مُسِيْئَنَا لِمُحْسِنِنَا وَمُقَصِرَنَا لِعَامِلِنَاوَهَبْ لَنَا الْكُلَّ بِوَجْهِكَ الْكَرِيْمِ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

ALLAHUMMA, YAA ALLAH TUHAN YANG MAHA KASIH,
Sanjung kebesaran, puja dan puji keagungan, kami panjatkan ke hadlirat-Mu Yaa Allah, pada hari yang berbahagia ini dapat terlaksana Halal Bi Halal Keluarga Besar SMK Pancasila 1 Kutoarjo, semoga Berkah dan Taburan Rahmat-Mu senantiasa mengucur menyirami acara ini dengan kelembutan kasih sayang dan Ridha-Mu.

Berdzikir Mengingat Allah Menguatkan Jiwa dan Raga

Khutbah Pertama: إنَّ الحمدَ لله، نحمدُه ونستعينُه ونستغفِرُه، ونعوذُ بالله مِن شُرور أنفسِنا ومِن سيئات أعمالِنا، مَن يهدِه الله فلا مُض...